Selasa, 10 Februari 2015

BAB IV



BAB 4
Rozy S.kep.Ns
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
                        Hasil penelitian ini disajikan dalam dua bagian yaitu data umum dan data khusus. Data umum meliputi karateristik responden yang terdiri dari umur, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan. Sedangkan data khusus terdiri dari hasil pengaruh perawatan kateter spooling terhadap kejadian infeksi saluran kemih diruang rawat inap bedah RSUD DR. H. Moh. Anwar  Sumenep.
4.1       HASIL PENELITIAN
4.1.1    DATA UMUM
4.1.1.1 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
            Penelitian ini berlokasi di wilayah RSUD Dr.H.Moh.Anwar Kabupaten Sumenep  yang menjadi pusat pelayanan kesehatan. Rumah Sakit ini Type C beralamatkan di JL.Dr.cipto No.42 Kecamatan Kota Kabupaten Sumenep. RSUD Dr.H.Moh.Anwar Memiliki Berbagai pelayanan diantaranya (Rawat Jalan) instalasi gawat darurat, poli anak, poli kebidanan dan kandungan, poli penyakit dalam, Poli bedah, poli gigi dan mulut, poli mata, poli THT, poli saraf,poli konsultasi uji kesehatan, hemodialisa, poli fisiotrapi, poli konsultasi gigi, poli ortopedi. (Rawat Inap) ruang perawatan bedah,ruang perawatan anak, ruang perawatan penyakit dalam, ruang perawatan kebidanan dan kandungan, ruang perawatan intensif (ICU, PICU, NICU), graha rawat inap (GRIU), (Instalasi penunjang) bedah sentral, patologi klinik, gizi, sanitasi, farmasi, radiologi, pemulasrai jenazah, ambulance, pemeliharaan sarana, peduli pelanggan.
4.1.1.2  KARAKTERISTIK RESPONDEN
1)      Distribusi Responden Berdasarkan Umur Pasien
Tabel 4.1 Distribusi Data Pasien terpasang kateter urine berdsarkan umur Di Ruang Graha Rawat Inap RSUD  Dr.H.Moh.Anwar  Sumenep, bulan september 2014.

No
Umur
Jumlah
Persentase(%)
1
25 – 33
7
32%
2
3442
7
32%
3
4351
5
23%
4
5260
2
9%
5
61 – 69
1
4%
Jumlah
22
100%

            Berdasarkan tabel 4.1 diatas menunjukkan bahwa hampir setengah responden berumur 25-51 tahun berjumlah 19 Responden (86%), sedangkan sebagian kecil berumur 52-69 tahun sebanyak 3 Responden (14%) dari 22 responden.

2)      Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin
Tabel 4.2 : Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin pasien terpasang kateter urine di ruang Graha rawat inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar  Sumenep, bulan september 2014.
No
Jenis kelamin
Jumlah
Persentase (%)
1
Laki- laki
15
68%
2
Prempuan
7
32%
Jumlah
22
100%
           
                        Berdasarkan tabel 4.2 diatas menunjukan bahwa hampir seluruh responden berjenis kelamin laki - laki sebanyak 15 orang (68%), sedangkan sebagian kecil  berjenis kelamin perempuan sebanyak 7 orang (22%) dari 22 responden. 
3)        Distribusi responden berdasarkan pendidikan pada pasien terpasang kateter urine
Tabel 4.3: Distribusi responden berdasarkan pendidikan pasien terpasang kateter urine di Graha ruang rawat inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar  Sumenep, bulan september 2014.
No
Pendidikan
Jumlah
Persentase (%)
1
SD
15
68%
2
SMP
3
14%
3
SMA
3
14%
4
SARJANA
1
4%
Jumlah
22
100%

                        Berdasarkan tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden merupakan lulusan SD sebanyak 15 orang (68%), sedangkan sebagian kecil responden lulusan sarjana sebanyak 1 orang (4%) dari 22 responden.
4)      Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan pada pasien terpasang kateter urine
Tabel 4.4 Karakteristik responden menurut pekerjaan pada pasien terpasang kateter diruang Graha rawat inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar  Sumenep, bulan september 2014.
No
Pekerjaan
Jumlah
Persentase
1
Petani
11
50%
2
Wiraswasta
4
19%
3
Swasta
5
23%
4
Pelajar
1
4%
5
PNS
1
4%
Jumlah
22
100%

                        Berdasarkan tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa setengah responden bekerja sebagai Petani sebanyak 11 orang (50%), sedangkan sebagian kecil  responden menjadi PNS dan pelajar sebanyak 1 orang (4%) dari 22 responden.
4.1.2        DATA KHUSUS
4.1.2.1 Kejadian ISK Sebelum Diberikan Perawatan Kateter Metode Spooling
Tabel 4.5 Distribusi pasien terpasang kateter urine dengan ISK sebelum diberikan perawatan kateter metode spooling Di ruang Graha rawat inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar Sumenep, bulan september 2014.
Frekuensi
Kejadian infeksi saluran kemih pada pasien terpasang kateter urine di ruang Graha rawat inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar Sumenep
 (PreTest)
N
%
1.   Terjadi Infeksi
5
22,7 %
2. Tidak terjadi Infeksi
17
77,3 %
Jumlah
22
100 %

                        Berdasarkan tabel 4.5 diatas menunjukkan bahwa hasil penelitian pasien terpasang kateter yang mengalami infeksi saluran kemih (ISK) sebelum diberikan perawatan kateter metode spooling sebanyak 5 orang (22,7 %).
4.1.2.2Kejadian ISK Setelah Diberikan Perawatan Kateter Metode Spooling
Tabel 4.6 Distribusi pasien terpasang kateter urine dengan ISK setelah diberikan perawatan kateter metode spooling Di ruang Graha rawat inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar Sumenep, bulan september 2014.
Frekuensi
Kejadian infeksi saluran kemih pada pasien terpasang kateter urine di ruang Graha rawat inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar Sumenep
 (Post Test)
N
%
1.    Terjadi Infeksi
3
13,6 %
2.    Tidak terjadi Infeksi
19
86,4 %
Jumlah
22
100 %

            Berdasarkan table 4.6 diatas menunjukkan bahwa hasil penelitian pasien terpasang kateter yang mengalami infeksi saluran kemih (ISK) setelah dilakukan perawatan metode spooling mengalami penurunan yaitu sebanyak 3 orang (13,6 %).
4.1.2.3 Perbandingan kejadian infeksi saluran kemih sebelum dan setelah diberikan perawatan kateter metode spooling di RSUD. Dr. H. Moh. Anwar Sumenep.
Table 4.7  pengaruh perawatan kateter metode spooling terhadap kejadian infeksi saluran kemih di RSUD Dr. H. Moh. Anwar Sumenep
Frekuensi
Terjadi
Tidak terjadi
N
Persent (%)
N
Present (%)
Pre-test
5
22,7 %
17
77,3 %
Post-test
3
13,6 %
19
86,4 %
ρ = 0. 001< α  = 0,05
Uji Chi-Square

4.2              Pembahasan
4.2.1        Mengidentifikasi kejadian ISK sebelum dilakukan perawatan kateter metode spooling  di RSUD Dr.H.Moh.Anwar Sumenep
            Berdasarkan tabel 4.7 diatas menunjukkan bahwa hasil penelitian pasien terpasang kateter yang mengalami infeksi saluran kemih (ISK) sebelum diberikan perawatan kateter metode spooling sebanyak 5 orang (22,7 %).
            Adanya kateter dalam saluran kemih dapat menimbulkan infeksi. Kolonisasi bakteri (bakteriuria) akan terjadi dalam waktu 4 sampai 5 hari pada separuh dari pasien yang menggunakan kateter urine, dan dalam waktu lebih dari 2 minggu sesudah pemasangan kateter terjadi pada hampir semua pasien (Brunner & Suddarth, 2000).
            Berdasarkan hasil di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak mengalami infeksi saluran kemih (ISK) yaitu sebanyak 17 orang (77,3 %) dan yang mengalami infeksi saluran kemih (ISK) sebanyak 5 0rang (22,7 %). Hal ini terbukti dari hasil pemeriksaan laboratorium dan didukung oleh responden yang diteliti baru dipasang kateter urine selama 5 hari. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Brunner dan Suddart yang menyebutkan bahwa kolonisasi bakteri pada saluran kemih terjadi dalam waktu 4-5 hari pemasangan kateter urine. Selain itu salah satu Faktor terjadinya gejala infeksi saluran kemih pada sebagian pasien mungkin disebabkan oleh penggunaan alat kateter yang tidak sesuai standart seperti penggunaan urine bag. Sebagian pasien ada yang menggunakan urine bag yang terdiri dari botol mineral yang tertutup plastik kresek hitam. mungkin hal ini yang memicu terjadinya kolonisasi mikroorganisme penyebab infeksi saluran kemih tersebut.
4.2.2        Mengidentifikasi kejadian ISK setelah dilakukan perawatan kateter dengan metode spooling terhadap kejadian ISK di RSUD dr.h.Moh.Anwar sumenep
            Berdasarkan tabel 4.7 diatas menunjukkan bahwa hasil penelitian pasien terpasang kateter setelah diberikan perawatan kateter metode spooling yang tidak mengalami infeksi saluran kemih (ISK) sebanyak 19 orang (86,4 %).
                        Irigasi (spooling) adalah pembilasan atau pembersihan dengan larutan tertentu guna membersihkan kandung kemih dan kadangkala untuk memberikan obat kedinding kandung kemih yang larutannya terdiri dari antiseptik dan antibiotik untuk membersihkan kandung kemih atau infeksi lokal. Tindakan ini menerapkan asepsis steril (Kozier dkk, 2010 Hal 887).
            Berdasarkan hasil di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak mengalami infeksi saluran kemih (ISK) yaitu sebanyak 19 orang (86,4 %) dan yang mengalami infeksi saluran kemih (ISK) sebanyak 3 orang (13,6 %). Hal ini terbukti dari hasil pemeriksaan laboratorium urine lengkap dan didukung oleh perawatan kateter urine berupa metode spooling. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya pasien yang sebelumnya negative ISK menjadi positif ISK setelah mendapat perawatan kateter metode spooling. Hal tersebut menunjukkan bahwa perawatan kateter metode spooling dapat mengurangi kejadian infeksi saluran kemih (ISK) dengan cara mengeluarkan segmen maupun mikroorganisme yang berada disepanjang saluran selang kateter urine menggunakan cairan NaCl.
4.2.3        Menganalisis pengaruh perawatan kateter dengan metode spooling terhadap kejadian ISK di RSUD Dr.H.Moh.Anwar Sumenep.
            Berdasarkan tabel 4.7 setelah dilakukan uji statistik Chi-Square untuk mengetahui pengaruh perawatan kateter urine dengan metode spooling terhadap kejadian infeksi saluran kemih (ISK) menunjukkan hasil dengan nilai signifikasi α = 0,001 sehingga Ho ditolak dan H1 diterima, artinya ada pengaruh dari perawatan kateter metode spooling terhadap kejadian infeksi saluran kemih.
            Infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh penyumbatan segmen pada selang kateter berupa peradangan saluran kemih bagian atas, peradangan saluran kemih bagian bawah dan Peradangan pada kandung kemih (Perry & potter, 2006 Hal 1724). Infeksi saluran kemih pada pasien terpasang kateter dapat disebabkan oleh pemasangan kateter urine yang tidak hyginis, penyumbatan segmen (seperti pus, darah dan lendir), kurangnya perawatan kateter urine dan lamanya pemasangan kateter urine (Perry & potter, 2006 Hal 1724). Menurut kozier dkk, penyumbatan segmen pada saluran kateter urine tersebut dapat diatasi dengan perawatan kateter urine metode spooling.
            Hasil diatas menunjukkan tidak adanya responden yang sebelumnya tidak terinfeksi menjadi terinfeksi. Hal ini dikarenakan spooling kateter urine sendiri berfungsi untuk membersihkan segmen seperti pus, darah, lendir bahkan mikroorganisme dari saluran kateter. Program perawatan kateter dengan metode spooling dilakukan setiap hari pada pagi hari sehingga mikroorganisme penyebab infeksi saluran kemih tidak dapat berkoloni. Dengan demikian perawatan kateter metode spooling dapat mengurangi kejadian infeksi saluran kemih pada pasien pengguna kateter urine di rumah sakit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar