BAB 4
Hasil penelitian ini
disajikan dalam dua bagian yaitu data umum dan data khusus. Data umum meliputi
karateristik responden yang terdiri dari umur, jenis kelamin, pendidikan, dan
pekerjaan. Sedangkan data khusus terdiri dari hasil pengaruh perawatan kateter spooling terhadap
kejadian infeksi saluran kemih diruang rawat inap bedah RSUD DR. H. Moh. Anwar Sumenep.
4.1 HASIL
PENELITIAN
4.1.1 DATA
UMUM
4.1.1.1 GAMBARAN
UMUM LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini berlokasi di wilayah RSUD Dr.H.Moh.Anwar Kabupaten Sumenep yang menjadi pusat pelayanan kesehatan. Rumah Sakit ini Type C beralamatkan di
JL.Dr.cipto No.42 Kecamatan Kota Kabupaten Sumenep. RSUD Dr.H.Moh.Anwar Memiliki Berbagai
pelayanan diantaranya (Rawat Jalan) instalasi gawat darurat, poli anak, poli kebidanan
dan kandungan, poli penyakit dalam, Poli bedah, poli gigi dan mulut, poli mata,
poli THT, poli saraf,poli konsultasi uji kesehatan, hemodialisa, poli
fisiotrapi, poli konsultasi gigi, poli ortopedi. (Rawat Inap) ruang perawatan
bedah,ruang perawatan anak, ruang perawatan penyakit dalam, ruang perawatan
kebidanan dan kandungan, ruang perawatan intensif (ICU, PICU, NICU), graha
rawat inap (GRIU), (Instalasi penunjang) bedah sentral, patologi klinik, gizi,
sanitasi, farmasi, radiologi, pemulasrai jenazah, ambulance, pemeliharaan
sarana, peduli pelanggan.
4.1.1.2 KARAKTERISTIK
RESPONDEN
1)
Distribusi Responden Berdasarkan Umur Pasien
Tabel 4.1 Distribusi Data Pasien terpasang kateter urine berdsarkan umur Di Ruang Graha Rawat Inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar Sumenep, bulan september 2014.
No
|
Umur
|
Jumlah
|
Persentase(%)
|
1
|
25 – 33
|
7
|
32%
|
2
|
34 – 42
|
7
|
32%
|
3
|
43 – 51
|
5
|
23%
|
4
|
52 – 60
|
2
|
9%
|
5
|
61 – 69
|
1
|
4%
|
Jumlah
|
22
|
100%
|
|
Berdasarkan tabel 4.1
diatas menunjukkan bahwa hampir setengah responden berumur 25-51 tahun berjumlah 19 Responden (86%), sedangkan sebagian kecil berumur 52-69 tahun sebanyak 3 Responden (14%) dari 22 responden.
2) Distribusi responden
berdasarkan jenis kelamin
Tabel 4.2 : Distribusi responden
berdasarkan jenis kelamin pasien terpasang
kateter urine di ruang Graha rawat inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar Sumenep, bulan september 2014.
No
|
Jenis kelamin
|
Jumlah
|
Persentase (%)
|
1
|
Laki- laki
|
15
|
68%
|
2
|
Prempuan
|
7
|
32%
|
Jumlah
|
22
|
100%
|
|
Berdasarkan tabel 4.2 diatas menunjukan bahwa hampir seluruh responden
berjenis kelamin laki - laki sebanyak 15 orang (68%), sedangkan sebagian
kecil berjenis kelamin perempuan
sebanyak 7 orang (22%) dari 22 responden.
3)
Distribusi responden berdasarkan pendidikan pada
pasien terpasang kateter urine
Tabel 4.3:
Distribusi responden berdasarkan pendidikan pasien terpasang kateter urine di
Graha ruang rawat inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar
Sumenep, bulan september 2014.
No
|
Pendidikan
|
Jumlah
|
Persentase (%)
|
1
|
SD
|
15
|
68%
|
2
|
SMP
|
3
|
14%
|
3
|
SMA
|
3
|
14%
|
4
|
SARJANA
|
1
|
4%
|
Jumlah
|
22
|
100%
|
|
Berdasarkan tabel 4.3
diatas menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden merupakan lulusan SD
sebanyak 15 orang (68%), sedangkan sebagian kecil responden lulusan sarjana
sebanyak 1 orang (4%) dari 22 responden.
4) Karakteristik responden
berdasarkan pekerjaan pada pasien terpasang kateter urine
Tabel 4.4 Karakteristik responden
menurut pekerjaan pada pasien terpasang kateter diruang Graha rawat inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar Sumenep, bulan september 2014.
No
|
Pekerjaan
|
Jumlah
|
Persentase
|
1
|
Petani
|
11
|
50%
|
2
|
Wiraswasta
|
4
|
19%
|
3
|
Swasta
|
5
|
23%
|
4
|
Pelajar
|
1
|
4%
|
5
|
PNS
|
1
|
4%
|
Jumlah
|
22
|
100%
|
|
Berdasarkan tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa setengah responden
bekerja sebagai Petani sebanyak 11 orang (50%), sedangkan sebagian kecil responden menjadi PNS dan pelajar sebanyak 1 orang (4%) dari 22 responden.
4.1.2
DATA KHUSUS
4.1.2.1 Kejadian ISK Sebelum Diberikan
Perawatan Kateter Metode Spooling
Tabel
4.5 Distribusi pasien terpasang kateter urine dengan ISK sebelum diberikan
perawatan kateter metode spooling Di ruang Graha rawat inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar Sumenep, bulan september 2014.
Frekuensi
|
Kejadian infeksi saluran kemih pada
pasien terpasang kateter urine di ruang Graha rawat inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar
Sumenep
(PreTest)
|
|
N
|
%
|
|
1.
Terjadi Infeksi
|
5
|
22,7
%
|
2. Tidak terjadi
Infeksi
|
17
|
77,3
%
|
Jumlah
|
22
|
100 %
|
Berdasarkan tabel 4.5
diatas menunjukkan bahwa hasil penelitian pasien terpasang kateter yang
mengalami infeksi saluran kemih (ISK) sebelum diberikan perawatan kateter
metode spooling sebanyak 5 orang
(22,7 %).
4.1.2.2Kejadian ISK Setelah
Diberikan Perawatan Kateter Metode Spooling
Tabel
4.6 Distribusi pasien terpasang kateter urine dengan ISK setelah diberikan
perawatan kateter metode spooling Di ruang Graha rawat inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar Sumenep, bulan september 2014.
Frekuensi
|
Kejadian
infeksi saluran kemih pada pasien terpasang kateter urine di ruang Graha
rawat inap RSUD Dr.H.Moh.Anwar Sumenep
(Post Test)
|
|
N
|
%
|
|
1.
Terjadi Infeksi
|
3
|
13,6 %
|
2.
Tidak terjadi Infeksi
|
19
|
86,4 %
|
Jumlah
|
22
|
100 %
|
Berdasarkan table 4.6
diatas menunjukkan bahwa hasil penelitian pasien terpasang kateter yang
mengalami infeksi saluran kemih (ISK) setelah dilakukan perawatan metode spooling mengalami penurunan yaitu
sebanyak 3 orang (13,6 %).
4.1.2.3 Perbandingan
kejadian infeksi saluran kemih sebelum dan setelah diberikan perawatan kateter metode spooling di RSUD. Dr.
H. Moh. Anwar Sumenep.
Table
4.7 pengaruh perawatan kateter metode
spooling terhadap kejadian infeksi saluran kemih di RSUD Dr. H. Moh. Anwar
Sumenep
Frekuensi
|
Terjadi
|
Tidak terjadi
|
||
N
|
Persent (%)
|
N
|
Present (%)
|
|
Pre-test
|
5
|
22,7 %
|
17
|
77,3 %
|
Post-test
|
3
|
13,6 %
|
19
|
86,4 %
|
ρ = 0. 001< α = 0,05
Uji Chi-Square
|
||||
4.2
Pembahasan
4.2.1
Mengidentifikasi kejadian ISK sebelum
dilakukan perawatan kateter metode spooling di RSUD Dr.H.Moh.Anwar Sumenep
Berdasarkan tabel 4.7 diatas menunjukkan bahwa hasil
penelitian pasien terpasang kateter yang mengalami infeksi saluran kemih (ISK)
sebelum diberikan perawatan kateter metode spooling
sebanyak 5 orang (22,7 %).
Adanya kateter dalam saluran kemih dapat menimbulkan
infeksi. Kolonisasi bakteri (bakteriuria) akan terjadi dalam waktu 4 sampai 5
hari pada separuh dari pasien yang menggunakan kateter urine, dan dalam waktu
lebih dari 2 minggu sesudah pemasangan kateter terjadi pada hampir semua pasien
(Brunner & Suddarth, 2000).
Berdasarkan hasil di atas menunjukkan bahwa mayoritas
responden tidak mengalami infeksi saluran kemih (ISK) yaitu sebanyak 17 orang
(77,3 %) dan yang mengalami infeksi saluran kemih (ISK) sebanyak 5 0rang (22,7
%). Hal ini terbukti dari hasil pemeriksaan laboratorium dan didukung oleh
responden yang diteliti baru dipasang kateter urine selama 5 hari. Hal ini
sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Brunner dan Suddart yang menyebutkan
bahwa kolonisasi bakteri pada saluran kemih terjadi dalam waktu 4-5 hari
pemasangan kateter urine. Selain itu salah satu Faktor terjadinya gejala
infeksi saluran kemih pada sebagian pasien mungkin disebabkan oleh penggunaan
alat kateter yang tidak sesuai standart seperti penggunaan urine bag. Sebagian
pasien ada yang menggunakan urine bag yang terdiri dari botol mineral yang
tertutup plastik kresek hitam. mungkin hal ini yang memicu terjadinya
kolonisasi mikroorganisme penyebab infeksi saluran kemih tersebut.
4.2.2
Mengidentifikasi kejadian ISK setelah
dilakukan perawatan kateter dengan metode spooling terhadap kejadian ISK di
RSUD dr.h.Moh.Anwar sumenep
Berdasarkan tabel 4.7 diatas
menunjukkan bahwa hasil penelitian pasien terpasang kateter setelah diberikan
perawatan kateter metode spooling yang
tidak mengalami infeksi saluran kemih (ISK) sebanyak 19 orang (86,4 %).
Irigasi (spooling) adalah pembilasan atau
pembersihan dengan larutan tertentu guna membersihkan kandung kemih dan
kadangkala untuk memberikan obat kedinding kandung kemih yang larutannya
terdiri dari antiseptik dan antibiotik untuk membersihkan kandung kemih atau
infeksi lokal. Tindakan ini menerapkan asepsis steril (Kozier dkk, 2010 Hal
887).
Berdasarkan hasil di atas menunjukkan bahwa mayoritas
responden tidak mengalami infeksi saluran kemih (ISK) yaitu sebanyak 19 orang
(86,4 %) dan yang mengalami infeksi saluran kemih (ISK) sebanyak 3 orang (13,6
%). Hal ini terbukti dari hasil pemeriksaan laboratorium urine lengkap dan
didukung oleh perawatan kateter urine berupa metode spooling. Hasil penelitian
menunjukkan tidak adanya pasien yang sebelumnya negative ISK menjadi positif
ISK setelah mendapat perawatan kateter metode spooling. Hal tersebut
menunjukkan bahwa perawatan kateter metode spooling dapat mengurangi kejadian
infeksi saluran kemih (ISK) dengan cara mengeluarkan segmen maupun
mikroorganisme yang berada disepanjang saluran selang kateter urine menggunakan
cairan NaCl.
4.2.3
Menganalisis pengaruh perawatan kateter dengan
metode spooling terhadap kejadian ISK di RSUD Dr.H.Moh.Anwar Sumenep.
Berdasarkan tabel 4.7 setelah dilakukan uji
statistik Chi-Square untuk mengetahui pengaruh perawatan kateter urine dengan
metode spooling terhadap kejadian infeksi saluran kemih (ISK) menunjukkan hasil
dengan nilai signifikasi α = 0,001 sehingga
Ho ditolak dan H1 diterima, artinya ada pengaruh dari perawatan kateter metode
spooling terhadap kejadian infeksi saluran kemih.
Infeksi saluran kemih yang
disebabkan oleh penyumbatan segmen pada selang kateter berupa peradangan saluran
kemih bagian atas, peradangan saluran kemih bagian bawah dan Peradangan pada kandung
kemih (Perry & potter, 2006 Hal 1724). Infeksi saluran kemih pada pasien terpasang kateter
dapat disebabkan oleh pemasangan kateter urine yang tidak hyginis, penyumbatan
segmen (seperti pus, darah dan lendir), kurangnya perawatan kateter urine dan
lamanya pemasangan kateter urine (Perry & potter, 2006 Hal 1724). Menurut
kozier dkk, penyumbatan segmen pada saluran kateter urine tersebut dapat
diatasi dengan perawatan kateter urine metode spooling.
Hasil
diatas menunjukkan tidak adanya responden yang sebelumnya tidak terinfeksi
menjadi terinfeksi. Hal ini dikarenakan spooling kateter urine sendiri
berfungsi untuk membersihkan segmen seperti pus, darah, lendir bahkan
mikroorganisme dari saluran kateter. Program perawatan kateter dengan metode
spooling dilakukan setiap hari pada pagi hari sehingga mikroorganisme penyebab
infeksi saluran kemih tidak dapat berkoloni. Dengan demikian perawatan kateter
metode spooling dapat mengurangi kejadian infeksi saluran kemih pada pasien
pengguna kateter urine di rumah sakit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar